Tuesday, 8 March 2016

Pertanian Organik Di Indonesia

Pertanian Organik Di Indonesia


Pertanian Organik Di Indonesia | Posisi geografis Indonesia mempunyai kelebihan tersendiri di bandingkan bersama negara-negara lain di dunia. Letaknya yg dilalui oleh garis katulistiwa, menjadikan Indonesia dari lalu mempunyai jargon tanah yg subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Jargon tersebut bukannya tidak dengan lantaran lantaran nyaris seluruhnya daratan Indonesia yakni lahan produktif bagi pertanian, & cuma sedikit dari daratan Indonesia yg kurang mempunyai kesuburan tanah di atas umumnya. Daratan bersama kualifikasi ini kebanyakan terdapat di daerah-daerah timur Indonesia yg tekstur tanahnya condong berbatu & kering. Tetapi begitu, daerah tersebut justeru mempunyai potensi bagi tumbuhnya tanaman-tanaman khas, seperti Jagung, jambu mete, pohon lontar & lain sebagainya, di mana tanaman-tanaman tersebut pula mempunyai potensi pasar yg teramat gede bagi peningkatan ekonomi bangsa.

Letak geografis yg memberikan kesuburan tanah Indonesia nyata-nyatanya tak senantiasa berbanding lurus dgn capaian hasil-hasil pertanian yg membanggakan. Terbukti, hingga saat ini Indonesia belum dapat utk berswasembada beras yg posisinya merupakan juga sebagai kepentingan pokok bagi mayoritas penduduk Indonesia. Pasti apabila menilik potensi Sumber Daya Alam yg ada bukan aspek tersebut yg mengakibatkan produktifitas pertanian di Indonesia berlangsung lamban, yg butuh mendapat manfaat pertanian organik sorotan ialah acara atau system pertanian yg dikerjakan di Indonesia.
Bila memperhatikan system pertanian di Indonesia, sebahagian agung masihlah dikerjakan dengan cara tradisional (utk tak menyatakan “seadanya”), di mana posisi petani yakni orang yg paling berkepentingan pada system pertanian itu sendiri. Thus, pertanian Indonesia seakan cuma buat memenuhi keperluan skala mikro an sich, yakni petani & keluarganya. Padahal, seyogyanya Indonesia bersama lahan pertanian 191.946.000 ha bisa jadi lumbung pangan dunia yg kepada kala kini ini kepentingan bakal bahan pangan dunia tetap meninggi (Kompas, 7 Pebruari 2011), & tak sebaliknya Indonesia justeru memperkeruh keadaan pangan dunia dgn jalankan kebijakan fiskal bersama peniadaan bea masuk impor pangan, ini artinya pemerintah sama saja tak mengutamakan produktifitas pangan nasional.
System pertanian tradisional semacam ini tentu sangat susah utk berkembang, & petani (baik pemilik terlebih penggarap lahan) dapat senantiasa jauh dari kemakmuran. Sanggup dibayangkan macam mana keadaan ekonomi petani Indonesia yg mengandalkan pertanian yang merupakan satu-satunya gantungan hidup, dikala mereka sedikit saja ke luar dari wilayah makan buat memenuhi kepentingan skundernya sehingga hasil pertanian itu sungguh tak signifikan.

Mensejahterakan petani Indonesia dgn keseluruhan masyarakat 260 juta jiwa di mana 41 juta penduduknya ialah petani memang lah tidaklah gampang, setidaknya dibutuhkan ide pertanian agung namun pertanian organik terus merakyat, maka muara kemakmuran ialah kepada petani, bukan terhadap tengkulak atau pedagang agribisnis semata. ide pertanian rakyat irit penulis mempunyai rencana yg sederhana, meliputi pengelolaan pertanian (termasuk juga pengolahan lahan & perlakuan tananaman) juga pengelolaan pasca panen.
Dengan Cara Apa keadaan petani terhadap diwaktu pengelolaan pertanian? Tak asing terdengar di telingah kita waktu memasuki periode tanam, petani bakal dihantui oleh jumlahnya kelangkaan. Sejak Mulai dari kelangkaan pupuk, kelangkaan bibit & terkadang kelangkaan obat-obatan. Padaha ketersediaan Pupuk, Bibit & Obat-obatan ialah sektor tak terpisahkan dari pertanian (rakyat), disaat satu saja dari aspek tersebut tak sedia sehingga hasil pertanian –pun tak mau maksimal. Kelangkaan bibit mendorong petani buat memanfaatkan bibit seadanya yg tak memenuhi standar kualitas benih, maka mampu dijamin tanaman yg tumbuh-pun tak mempunyai mutu yg baik. Begitu pun bersama minimnya ketersediaan pupuk di petani, bakal menjadikan tanaman yg ditanam merana dgn periode depan panen yg tak terang.
Belum terkawalnya regulasi pemerintah menyangkut pendistribusian pupuk juga obat-obatan hingga ditangan petani ialah persoalan serius yg mesti cepat diselesaikan, maka terhindar dari permainan oknum tak bertanggungjawab menggunakan momentum kepentingan tersebut buat “lebih mencekik leher petani” bersama menimbun juga jual kepentingan pertanian dgn harga tinggi.
Petani di Indonesia memang lah sebahagian akbar belum sanggup melepaskan diri dari ketergantungan pupuk & obat-obatan kimia. Biarpun utk jangka panjang, pertanian bersama menggantungkkan kepada pupuk & obat-obatan kimia dapat makin memperpuruk keadaan kesuburan tanah & kerentanan dapat serangan hama & penyakit.

Pemakaian pupuk kimia memang lah menjadikan tanah pertanian subur dengan cara instan, sebab unsur hara yg mensuplai kesuburan tanah tak ikut terbaharui dgn pemakaian pupuk kimia ini. makanya, pemakaian pupuk kimia tak ubahnya juga sebagai suplemen yg memforsir kesuburan tanah dalam saat singkat tidak dengan menghiraukan ketersediaan unsur hara yg masihlah dikandung oleh lahan pertanian tersebut. Keadaan ini lambat laun bakal mengikis kesuburan tanah/lahan yg tetap dieksploitir.
Setali tiga duit, pemakaian pestisida & obat-obatan kimiawi memang lah bersama serentak bisa mengusir hama & mengobati penyakit tanaman. Tapi, hingga kapan hama & penyakit itu mempan dgn obat-obatan kimiawi tersebut? Dikarenakan hama & penyakit lambat laun dapat membangun kekebalan badan kepada obat-obatan kimia. Meracik & membuat bahan kimia baru pun bukan yakni solusi cocok buat mengatasi faktor ini, lantaran di samping keevektifitasan-nya yg tak sebanding bersama perkembangan hama & Penyakit, unsur kimia dalam pestisida ini pula tak mampu hilang kepada hasil product pertanian yg dapat dimakan oleh manusia. Menjadi product pertanian bersama memakai pestisida kimiawi condong mengarah terhadap makanan yg tercemar.

Sekian Banyak negeri sudah memberlakukan peraturan ketat berkaitan bahan pangan yg mengandung kimiawi ini. Searah dgn hal itu sehingga tidak sedikit negeri yg cuma ingin mengimpor bahan makanan yg bebas dari unsur kimiawi.
Pertanian Organik yang merupakan Solusi
Menyaksikan perkembangan dunia pangan khususnya product pertanian dewasa ini, telah jadi keharusan jikalau pertanian dilaksanakan dengan cara organik. Potensi mengembangkan pertanian organik di Indonesia juga terbilang teramat terbuka lebar, elemen ini sebab tersedianya beraneka unsur tanaman yg berfungsi juga sebagai pupuk organik ataupun pestisida nabati juga mengijinkan berkembangbiaknya musuh alami (Predator) bagi pengendalian siklus hidup hama & penyakit.

Pupuk organik (kompos) telah tak asing lagi bagi petani-petani di Indonesia. Terhadap zaman pertanian klasik kompos yg rata rata terbuat dari kotoran hewan ataupun sisa-sisa tumbuhan yg sudah membusuk difungsikan juga sebagai bahan andalan penyubur tanaman. Seiring dgn maraknya pemakaian pupuk kimia keberadaan pupuk organik serta mulai sejak ditinggalkan oleh para petani.
Begitu-pun bersama perkembangan hama & penyakit , tidak sedikit yg menilai aspek tersebut disebabkan oleh sekian banyak factor, seperti ; anomali cuaca & rusaknya ekosistem alam. Tapi meningkatnya hama & penyakit tanaman dewasa ini serta tak menutup bisa saja dikarenakan berkurangnya musuh alami (predator) di alam bebas, maka berjalan ketidak seimbangan ekosistem. Misalnya; mewabahnya hama tikus karena komune ular yg telah langka, mewabahnya wabah belalang dikarenakan menurunnya komune burung pemakan belalang, & lain sebagainya.

No comments:

Post a Comment